Minggu, 19 Februari 2012

Televisi Eksploitasi Perempuan

dipublikasikan oleh Jurnal Nasional | Sabtu, 18 Feb 2012
Mohamad Fathollah
Praktisi Sosial, Alumnus Sosiologi UIN Sunan Kalijaga


KEKERASAN terhadap perempuan kini tidak hanya terjadi di dunia privat. Di dunia publik pun kekerasan terhadap perempuan acap terekploitasi oleh tontonan yang ada di televisi. Beberapa sinetron misalnya, menjadikan perempuan sebagai obyek patriarkhi.

Mencuatnya berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan yang diekspose media cetak maupun elektronik beberapa tahun terakhir ini tidak hanya berpengaruh pada hubungan realitas sosial kemasyarakatan. Kisah perih yang menimpa perempuan dewasa ini dapat kita jumpai tidak hanya di sekitar lingkungan kita, melainkan juga dalam tayangan-tayangan televisi; baik yang berbentuk reality show, maupun sinetron. Kisah semi-nyata pun seringkali menjadikan perempuan sebagai bahan rekaan cerita yang cenderung menjadi obyek penderita.

Diakui atau pun tidak, sebagian besar masyarakat Indonesia gemar ngerumpi. Anehnya, bahan perbincangan tidak jauh-jauh dari dunia sinetron, telenovela, atau bahkan perceraian artis tertentu. Walaupun tidak dapat dibuktikan secara empirik, “dunia ibu-ibu‘ itu dapat kita jumpai di beberapa wilayah perdesaan.

Berita tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang menimpa beberapa artis sinetron seakan telah menjadi teman dekat penonton. Kisah Manohara yang meroket pascakemelut dengan pangeran Kelantan beberapa waktu lalu misalnya, mementik inspirasi beberapa PH (publishing house) untuk menampilkan kisah serupa dan dengan nama sinetron yang sama. Pertanyaan besar: mengapa tayangan yang menjadikan perempuan sebagai obyek begitu diminati?

Subaltern
Walaupun pada akhir kisahnya happy ending, tayangan yang menampilkan sosok perempuan sebagai tokoh utama sekaligus menjadi kelas kedua (subaltern) dalam tayangan televisi dewasa ini secara tidak langsung semakin menempatkan perempuan dalam posisi tertindas. Mengapa tidak, sorang tokoh perempuan dalam skrip atau plot drama harus bisa memerankan perempuan yang “seolah-olah‘ menderita. Walaupun tidak dapat dikatakan sebagai pelecehan besar-besaran terhadap perempuan, tetapi secara psikologis hal tersebut berdampak pada penontonnya untuk melakukan hal serupa dalam kehidupan nyata: selalu inferior.

Maraknya senidrama kejar tayang di berbagai televisi tidak hanya menampilkan perempuan sebagai tokoh utama yang berperan protagonis, tetapi terdapat pula perempuan berperan sebagai tokoh antagonis serta tokoh utama (perempuan) yang seringkali menjadi obyek penderita.

Bentuk kekerasan tentu tidak hanya kekerasan fisik. Dalam tayangan sinetron seringkali kita jumpai adegan yang menjadikan perempuan subordinat, baik dari faktor psikologis, seksual, finansial, spiritual, fungsional, dsb. Tidak hanya itu, indikasi kekerasan menurut Sunarto (2009:139) dapat berupa diskriminasi, marginalisasi, stereotifikasi, viktimisasi, dominasi, domestikasi, obyektifikasi, opresi, pornografi, dan eksploitasi.

Dalam tulisan ini saya tidak serta merta menyalahkan laki-laki sebagai subyek dan perempuan sebagai obyek (penderita). Sebab, tidak jarang yang terjadi malah sebaliknya. Akan tetapi yang patut dicermati oleh masyarakat sebagai penonton dan pekerja televisi: baik produser, sutradara, pemain, penulis skenario, ataupun para crew yang bersangkutan adalah mengapa harus perempuan acapkali menjadi trade mark? Apakah karena tuntutan realitas sosial masyarakat yang menyenangi berita perceraian, pertikaian dalam rumah tangga, atau lebih daripada itu karena tubuh perempuan cepat laku jual tinimbang laki-laki (faktor komersial)? Namun yang jelas, tayangan yang semestinya menjadi panutan kini berubah menjadi bom waktu yang suatu saat nanti dapat meledakkan tata nilai dan norma dalam masyarakat.

Noktah ketidakberdayaan perempuan yang ditampilkan televisi kini secara tidak langsung semakin memperparah jurang emansipasi. Padahal sudah jelas KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) mengeluarkan Keputusan KPI Nomor 009/SK/8/2004 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Salah satu isinya pada pasal 5 poin (f) menyebutkan bahwa lembaga penyiaran melindungi kehidupan anak-anak, remaja dan kaum perempuan. Dan pasal 6 poin (d), tentang pelarangan dan pembatasan adegan seks, kekerasan, dan sadisme.

Penayangan sinetron atau infotaiment tentu tidak lepas dari kungkungan kapitalisme. Sifat kapitalisme yang menerjang moral, etika, dan budaya secara tidak langsung semakin menggurita dalam pertelevisian kita saat ini. Hal privat (life privacy) yang dahulu tabu diperbincangkan dan dipertontonkan kepada khalayak, kini dengan mudah kita temukan di dalam televisi kita.

Praksis nilai yang berbasis kapitalisme dan misigonisme menjadikan kekerasan terselebung. Tanpa sadar masyarakat setiap detik disuguhi bentuk kekerasan baru yang bernama hiburan. Masyarakat dididik untuk semakin individualis, egosentris, dan antipatif.

Konstruksi Realitas
Sugesti, kata Sigmund Freud, mempunyai peran penting dalam perikehidupan manusia. Begitupula dalam tayangan televisi. Ia secara tidak langsung membius alam bawah sadar penontonnya untuk berbuat serupa dengan apa yang ditonton. Paling tidak, tontonan tersebut memberikan gambaran realitas yang manipulatif dan alienatif bagi hubungan yang mencitakan harmoni.

Noktah buram “ketidakberdayaan‘ perempuan di dunia realitas atau pun hiperrealitas (televisi) tidak hanya menjadi wacana absurd. Dalam televisi, perempuan semakin alienatif dari dunianya. Apabila hal ini dibiarkan terus menerus, sinetron yang mendiskriminasi perempuan tidak hanya menjadi konsumsi wajib masyarakat, tapi juga akan berdampak pada tekanan psikologi sosial masyarakat.

Sebagai entitas kultural, televisi berperan penting sebagai media ekspresi identitas dan konstruksi realitas sosial tertentu (Sunarto,2009:27). Karena itu, secara bersama-sama marilah kita perbaiki tontonan televisi kita mulai sekarang. Untuk pelaku televisi ataupun masyarakat banyak saya kira apabila menanamkan kesadaran sensivitas gender secara bertahap sinetron-sinetron yang diskriminatif akan berganti wajah cerah bagi hubungan sosial kemasyarkatan di masa akan datang. n

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Cukup dengan jiwamu untuk mengatakan ya, atau dengan ingatanmu untuk mengatakan tidak. Tulis dengan kata hatimu.